newspaper

Loading...

Statement from the family of Sheikh Osama bin Laden

"We want to remind the world that Omar Ossam Binladin, the fourth-born son of our father, always disagreed with our father regarding any violence and always sent messages to our father, that he must change his ways and that no civilians should be attacked under any circumstances. Despite the difficulty of publicly disagreeing with our father, he never hesitated to condemn any violent attacks made by anyone, and expressed sorrow for the victims of any and all attacks. As he condemned our father, we now condemn the president of the United States for ordering the execution of unarmed men and women."

Omar-son of Osama Bin Laden, questioning and demand to International Criminal Court and United Nations for investigation of attack his father. If no answer within 30 days, an international lawyers must take action. The statement published in The New York Times, May 10, 2011.

Tuesday, 17 January 2012

Siaran Pers: Penolakan Forkorus Yaboisembut Tentang Proses Pengadilan Di Luar Jayapura

Media Release
Pemimpin Bangsa Papua

MENOLAK PROSES HUKUM DI LUAR PENGADILAN
NEGERI KELAS IIA JAYAPURA-PAPUA


Berhubung pernyataan salah satu anggota kejaksaan Tinggi Prov. Papua pada 11 Januari 2012, dan bertolak dari pengalaman bangsa Papua di masa lalu dimana banyak pejuang Papua diproses hukum di luar Papua kemudian mengalami nasip tragis, maka dari dalam terasi besi tahanan Negara Republik Indonesia saya, Forkorus Yaboisembut selaku  Presiden Negara Federal Republik Papua Barat bersama 4 orang masing-masing; Edison Waromi SH (perdana Menteri Negara Federal Republik Papua Barat), Dominikus Sorabut, Selpius Boby, Agustinus Kraar dan menyatakan sikap;
1.      Kami menolak dengan tegas untuk diproses hukum di luar Pengadilan Negeri Kelas IIA Jayapura Papua Barat. Hal ini sejalan dengan amanat hukum dimana persidangan mesti dilakukan di tempat terjadinya perkara. Disamping itu, saya selaku pemimpin bangsa Papua, seluruh proses hukum dilakukan di tengah rakyat bangsa Papua. Oleh karena itu, saya minta untuk proses hukum dilakukan di Pengadilan Negeri Kelas IIA di Jayapura Papua. Namun, apabila proses hukum dilakukan di luar pengadilan Negeri kelas IIA maka tempat lain yang kami minta ialah di pengadilan Internasional. Hal ini penting mengingat kami sebagai Bangsa Papua tidak mau lagi selalu dikorbankan melalui proses hukum di Indonesia namun proses hukum dilakukan tempat yang netral demi mendapat keadilan bagi kami dan bagi rakyat bangsa Papua.
2.      Mengingat semakin dekatnya waktu proses persidangan maka saya selaku pemimpin Bangsa Papua dan selaku Presiden Negara Federal Republik Papua Barat, menyerukan kepada rakyat Bangsa Papua untuk bersiap-siap memberikan dukungan dalam seluruh proses hukum.
3.      Selama proses hukum berlangsung, rakyat bangsa Papua  akan tetap menjaga proses perdamaian. Sebab, sejak Sang Pencipta menciptakan dan menempatkan di atas tanah leluhur kami ini, kami bangsa Papua adalah bangsa beradap, dengan selalu menjung tinggi nilai-nilai adat-istiadat, demokrasi, hukum dan HAM serta keadilan dan perdamaian.
4.      Kami juga menolak segala cara pemaksaan, teror serta cara-cara kebiadaban lainnya, yang akan digunakan aparat penegak hukum untuk membawa kami keluar dari Tahanan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Abepura Jayapura ke lembaga pemasyarakatan yang lain di Wilayah Hukum Indonesia.
5.      Atas semua dukungan, perhatian berbagai pihak dalam memperjuangkan keadilan, perdamaian, kebebasan dan kedaulatan Politik, saya selaku pemimpin menyampaikan ucapan trimakasih.

Demikian pernyataan ini dapat saya sampaikan selaku Pemimpin Bangsa Papua dan Kepala Negara Federal Republik Papua Barat.
                                                                                          Jayapura, 15 Januari 2012
                             
Forkorus Yaboisembut, S. Pd
Presiden Negara Federal Republik Papua Barat


Monday, 5 December 2011

“Blok M” dan Milis Perjuangan “Apakabar”


Oleh Basilius Triharyanto                                             
                                                                                                     
                       
Jakarta, Juni 1994. Tiga majalah mingguan berita TEMPO, DeTIK, dan Editor dibredel pemerintah Suharto. Para jurnalis, dosen, aktivis diculik dan dibunuh. Pemerintah melakukan sensor berita kepada semua surat kabar umum, televisi, dan kantor berita yang terbit di Indonesia. Kebebasan pers dan berbicara telah mati.

Goenawan Mohamad, pemimpin redaksi TEMPO berjuang melawan rezim Suharto. Karena tak bisa berbicara dan menulis dengan bebas di media massa, ia melanjutkan perlawanan dengan mendirikan media bawah tanah dengan menggunakan internet. Ia tetap melawan musuh bersenjata dengan pena, informasi dan berita.

Pada 1995 Goenawan Mohamad mengorganisir tokoh-tokoh intelektual dan pers. Aristides Katoppo (Direktur Pustaka Sinar Harapan), Arief Budiman (Sosiolog), Ashadi Siregar (dosen Universitas Gajah Mada), Mochtar Pabottinggi (Peneliti LIPI), Andreas Harsono dan Stanley Adi Prasetyo (wartawan). Mereka mendirikan lembaga perjuangan, namanya Istitut Studi Arus Informasi (ISAI), yang dipimpin oleh Goenawan Mohamad.

Tokoh-tokoh ISAI juga bergabung dengan jurnalis yang melawan tindakan represif rezim Suharto. Pada 7 Agustus 1995 puluhan jurnalis mendeklarasikan organisasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), yang dikenal dengan Deklarasi Sinargalih. Mereka menolak intimidasi, sensor, dan pembredelan pers Indonesia. Dan dua organisasi inilah melakukan gerakan perlawananan bawah tanah (onderground).

Tim “Blok M”

Beberapa bulan setelah ISAI berdiri, Goenawan Mohamad mengerjakan proyek perjuangan jurnalis bawah tanah (onderground). Andreas Harsono, sekretaris jenderal (umum) ISAI meneranngkan Goenawan Mohamad membentuk tim, yang dikenal dengan nama “Blok M”. Blok M adalah kawasan pusat dagang paling ramai di Jakarta Selatan. Berdiri bangunan mal, terminal bus, restoran, cafe, pasar, dan kantor pemerintahan. Menurut Andreas Harsono nama Blok M dipakai sebagai kamuflase dan mengecoh gerakan intelijen militer.   

Tim penggerak Blok M sangat ramping. Goenawan Mohamad memimpin sekaligus pencari dana, Andreas Harsono bekas wartawan The Jakarta Post mengurusi manajemen operasional keuangan, Stanley wartawan Jakarta-Jakarta menjadi kepala proyek di Jakarta, Irawan Saptono wartawan dari Timor Leste yang menjadi direktur Blok M. Ketiga wartawan itu umurnya 30an tahun.

Menurut Andreas Harsono, tim kerja Blok M sengaja dibentuk ramping, dibuat agar sedikit orang tahu. “Tim yang direkrut teman yang bisa dipercaya.” Ketiga wartawan berusia 30an itu adalah teman lama, menjadi aktivis mahasiswa di Universitas Katolik Satya Wacana Salatiga, Middle Java. Bahkan, Tim Blok M tak melibatkkan aktivis pro demokrasi yang saat itu radikal melawan pemerintah. Tim dibentuk benar-benar bersih, jurnalis independen. “Aktivis tidak boleh masuk. Tim harus dijaga bersih”, kata Andreas Harsono.

Markas utama Blok M ada di Utan Kayu No. 68, Jakarta Timur. Di bagian depan kantor dipakai saat itu dipakai dealer motor. Pintu masuk ke gedung ini berukuran kecil. Saat itu kantor ini sering diintai oleh intel-intel SGI (Satuan Gugus Intelijen). Kantor ini disetting dengan sistem pengamanan. Ada pintu rahasia, ada pintu yang bisa dibuka dengan kartu.
Pada bagian luar gedung kadang dijaga oleh orang-orang militer yang berhaluan ke kelompok komunis.
           
Operasi kerja Blok M tersembunyi. Orang-orang Blok M dan wartawannya tidak mengetahui bagaimana operasi kerja di lapangan. Bahkan, GM dan petinggi ISAI lainnya tak mengetahui lokasi proyek layanan beritanya. “Setiap minggu rapat, tapi GM hanya membaca dan mengevalusi berita-berita yang ditulis. GM sengaja membiarkan untuk tidak tahu operasional lapangan,” kata Andreas Harsono.

Tim Blok M mendirikan layanan berita lewat internet. Di awal 1996 terbentuk kantor berita umum PIPA. Ini tak bertahan lama. Tim kerja Blok M menilai faktor keamanan sangat rentan dan mengkhawatirkan. “Saat berita terkirim, siapa pengirimnya segera ketahuan,” kata Irawan Saptono kepada Janet Steele.   

Lalu Tim Blok M mengubah sistem jaringan internet yang lebih aman dan canggih lagi setelah mendapatkan dana dari Asia Foudation. Proyek jaringan berita internet namanya SiaR. Ia memiliki enam rubrik dengan cirikhas berani mengkritik pemerintah dan orang-orang Suharto. Rubrik dalam berita internet SiaR dikelola seperti dalam majalah atau surat kabar. Akurasi berita tetap dijaga. Editing dan cek narasumber dijalankan, meski tak semua dilakukan, seperti Megawati Soekarnoputri, Amin Rais, Gusdur (Abdurahman Wahid).  

Berita-berita SiaR tidak hanya dari Jakarta saja. Blok M mempunyai koresponden wartawan di daerah-daerah konflik, seperti Aceh, Papua, Timor-Timur, dan daerah Sumatera dan Jawa. Untuk keselamatan dan keamanan, berita-berita SiaR tidak memakai byline atau anonim. Goenawan Mohamad suka menulis anekdot politik di rubrik “Goro-Goro” tanpa byline.

Tim Blok M menyewa sebuah tempat di Cikini, Jakarta Pusat, dijadikan markas menyebarkan berita-berita SiaR. Di sebuah ruangan yang luasnya sekitar 50 meter ini didesain layaknya kantor biro-agen iklan. Tim menyewa sebuah mesin fotocopy yang cukup besar. Berita-berita SiaR diperbanyak dengan mesin fotocopy itu, lalu disebarkan ke kalangan luas secara gratis. Berita SiaR juga disebarkan dan dikirim melalui mesin fax. Dalam satu hari ada lebih dari empat ratus alamat nomor fax yang dikirimi berita SiaR. Seorang aktivis luar negeri bekerja mengirimkan berita dengan email lewat internet dan membuat sistem keamanan (electronic security).

Berita-berita SiaR juga dibaca oleh pengguna internet di Indonesia, benua Asia dan Eropa. Layanan berita SiaR disalurkan oleh milis para intelektual yang mempelajari soal Indonesia, beralamat apakabar@clark.net. John MacDouglall dari Ohio University yang berperan sebagai moderator milis “Apakabar”. Ia menyebarkan layanan berita SiaR dan informasi bawah tanah lainnya di milis itu dari Amerika Serikat.

Milis “Apakabar”  

John MacDougall mendesain sistem keamanan yang sulit ditembus oleh intelijen militer. Ia mengorganisir transaksi informasi elektronik dari hulu hingga hilir (atau dari bawah sampai ke atas). Seorang webmaster ditempatkan di Jakarta, tugasnya menerima kiriman berita dari reporter di lapangan. Mereka mengirimkan berita dengan file-file yang telah terkunci. Kunci file itu dibuka oleh Webmaster Jakarta, kemudian dikirimkan ke moderator milis di Amerika Serikat. John MacDougall membukanya, membuat sistem pengamanan baru untuk disebarkan ke milis apakabar. Semua file yang diposting dilindungi oleh sistem keamanan yang sama ketat dan kuatnya.

Dalam korespondensi email dengan John MacDaugall, ia menjelaskan cara kerja dan prosedur berita dan informasi diposting ke milis ‘apakabar’. “Security of specific poster identity for this group's postings was made possible in two ways. Postings were sent encrypted using PGP to a friend of mine who de-encrypted them and sent them to me to put on 'apakabar.'  That was, remember, a moderated list run on a leased server, so I could further ensure privacy and protection by taking names out of the subject heads before I sent them to the 'apakabar' site.”  

Berita-berita SiaR bebas dari sensor, wartawan dan kontributornya bisa bebas menulis tentang kekejaman militer, keluarga cendana-keluarga Suharto, korban-korban hak asasi manusia di Aceh, Papua, Jawa, dan daerah lain. Artikel-artikel tentang gerakan kemerdekaan Organisasi Papua Merdeka (OPM), perilaku buruk petinggi militer, bisnis kotor para menteri kabinet dan keluarga Suharto, korupsi di lembaga pemerintah seperti BULOG, dan kejahatan kemanusiaan seperti penculikan dan pembunuhan dosen, aktivis, dan wartawan tak pernah mengalami kebocoran.

Intelijen tak mampu menembus pertahanan dan keamanan dari jaringan layanan berita bawah tanah SiaR dan milis apakabar. Secara tegas John MacDaugall menulis email kepada saya, “That's why the database of all postings 1990 to 2002 is so clean.”

“The early 1990s postings, mainly news and documentation, were carried in a newsgroup on a proprietary American Internet service provider, the Institute for Global Communications (IGC), an English-language activist network,” John menjelaskan lagi. 

Informasi dan berita di milis apakabar dibagi dalam beberapa bagian menurut judul dan tema yang ditulis, dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Antara lain, inisial L-adalah tentang opini dan analisis, berita, dokumen, wacana atau isu, dan kategori wilayah (region) seperti Timor, Sumatra. Informasi yang dikirim juga berasal dari berita-berita suratkabar Indonesia dan luar negeri. Nama penulis dan suratkabar itu tetap dirahasiakan atau dibuat akronim, misalnya The Jakarta Post itu JKTP, Sydney Morning Herald itu SMH.

Dalam artikel A Brief History of The Apakabar List, John MacDaugall menulis selama Oktober 1990 sampai Februari 2002 ia mencatat 175.000 posting dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Menurutnya, milis apakabar tumbuh dan berkembang luas dalam sejarah milis internet di Indonesia. Apakabar dibaca oleh 250 ribu orang di 96 negara. Apakabar menjadi database sangat menarik dan kaya bagi studi tentang Indonesia. Saat ini database apakabar bisa dibaca di web, www.hamline.edu/apakabar dengan bebas dan merdeka.

Database apakabar menjadi saksi sejarah Indonesia tentang orang-orang bawah tanah yang melawan rezim ototoriter yang melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap rakyatnya. Apakabar adalah saksi para jurnalis dan aktivis intelektual Indonesia yang berjuang melawan sebuah tirani dengan informasi.

Semoga, apakabar memberikan inspirasi kepada dunia dan kita yang sedang berkumpul di sini untuk tetap berjuang menyuarakan kebenaran dengan informasi dan berita. Kebebasan (di Indonesia) telah diraih, namun ancaman menegakkan kebenaran tetap memuat resiko besar bagi kerja profesional jurnalis. *** 
[Ini naskah saya buat tahun 2009, naskah pendek yang perlu eksplorasi mendalam dan lengkap tentang sejarah media internet di zaman rezim otoriter Orde Baru.]