Oleh Basilius Triharyanto
Jakarta, Juni
1994. Tiga majalah mingguan berita TEMPO, DeTIK, dan Editor dibredel pemerintah
Suharto. Para jurnalis, dosen, aktivis diculik dan dibunuh. Pemerintah
melakukan sensor berita kepada semua surat kabar umum, televisi, dan kantor
berita yang terbit di Indonesia. Kebebasan pers dan berbicara telah mati.
Goenawan Mohamad,
pemimpin redaksi TEMPO berjuang melawan rezim Suharto. Karena tak bisa
berbicara dan menulis dengan bebas di media massa, ia melanjutkan perlawanan
dengan mendirikan media bawah tanah dengan menggunakan internet. Ia tetap
melawan musuh bersenjata dengan pena, informasi dan berita.
Pada 1995
Goenawan Mohamad mengorganisir tokoh-tokoh intelektual dan pers. Aristides
Katoppo (Direktur Pustaka Sinar Harapan), Arief Budiman (Sosiolog), Ashadi
Siregar (dosen Universitas Gajah Mada), Mochtar Pabottinggi (Peneliti LIPI),
Andreas Harsono dan Stanley Adi Prasetyo (wartawan). Mereka mendirikan lembaga
perjuangan, namanya Istitut Studi Arus Informasi (ISAI), yang dipimpin oleh
Goenawan Mohamad.
Tokoh-tokoh ISAI
juga bergabung dengan jurnalis yang melawan tindakan represif rezim Suharto.
Pada 7 Agustus 1995 puluhan jurnalis mendeklarasikan organisasi Aliansi
Jurnalis Independen (AJI), yang dikenal dengan Deklarasi Sinargalih. Mereka
menolak intimidasi, sensor, dan pembredelan pers Indonesia. Dan dua organisasi
inilah melakukan gerakan perlawananan bawah tanah (onderground).
Tim “Blok M”
Beberapa bulan
setelah ISAI berdiri, Goenawan Mohamad mengerjakan proyek perjuangan jurnalis
bawah tanah (onderground). Andreas Harsono, sekretaris jenderal (umum) ISAI
meneranngkan Goenawan Mohamad membentuk tim, yang dikenal dengan nama “Blok M”.
Blok M adalah kawasan pusat dagang paling ramai di Jakarta Selatan. Berdiri
bangunan mal, terminal bus, restoran, cafe, pasar, dan kantor pemerintahan.
Menurut Andreas Harsono nama Blok M dipakai sebagai kamuflase dan mengecoh
gerakan intelijen militer.
Tim penggerak
Blok M sangat ramping. Goenawan Mohamad memimpin sekaligus pencari dana,
Andreas Harsono bekas wartawan The Jakarta Post mengurusi manajemen operasional
keuangan, Stanley wartawan Jakarta-Jakarta menjadi kepala proyek di Jakarta,
Irawan Saptono wartawan dari Timor Leste yang menjadi direktur Blok M. Ketiga
wartawan itu umurnya 30an tahun.
Menurut Andreas
Harsono, tim kerja Blok M sengaja dibentuk ramping, dibuat agar sedikit orang
tahu. “Tim yang direkrut teman yang bisa dipercaya.” Ketiga wartawan berusia
30an itu adalah teman lama, menjadi aktivis mahasiswa di Universitas Katolik
Satya Wacana Salatiga, Middle Java. Bahkan, Tim Blok M tak melibatkkan aktivis
pro demokrasi yang saat itu radikal melawan pemerintah. Tim dibentuk
benar-benar bersih, jurnalis independen. “Aktivis tidak boleh masuk. Tim harus
dijaga bersih”, kata Andreas Harsono.
Markas utama Blok
M ada di Utan Kayu No. 68, Jakarta Timur. Di bagian depan kantor dipakai saat
itu dipakai dealer motor. Pintu masuk ke gedung ini berukuran kecil. Saat itu
kantor ini sering diintai oleh intel-intel SGI (Satuan Gugus Intelijen). Kantor
ini disetting dengan sistem pengamanan. Ada pintu rahasia, ada pintu yang bisa
dibuka dengan kartu.
Pada bagian luar
gedung kadang dijaga oleh orang-orang militer yang berhaluan ke kelompok
komunis.
Operasi kerja
Blok M tersembunyi. Orang-orang Blok M dan wartawannya tidak mengetahui
bagaimana operasi kerja di lapangan. Bahkan, GM dan petinggi ISAI lainnya tak
mengetahui lokasi proyek layanan beritanya. “Setiap minggu rapat, tapi GM hanya
membaca dan mengevalusi berita-berita yang ditulis. GM sengaja membiarkan untuk
tidak tahu operasional lapangan,” kata Andreas Harsono.
Tim Blok M
mendirikan layanan berita lewat internet. Di awal 1996 terbentuk kantor berita
umum PIPA. Ini tak bertahan lama. Tim kerja Blok M menilai faktor keamanan
sangat rentan dan mengkhawatirkan. “Saat berita terkirim, siapa pengirimnya
segera ketahuan,” kata Irawan Saptono kepada Janet Steele.
Lalu Tim Blok M
mengubah sistem jaringan internet yang lebih aman dan canggih lagi setelah
mendapatkan dana dari Asia Foudation. Proyek jaringan berita internet namanya
SiaR. Ia memiliki enam rubrik dengan cirikhas berani mengkritik pemerintah dan
orang-orang Suharto. Rubrik dalam berita internet SiaR dikelola seperti dalam
majalah atau surat kabar. Akurasi berita tetap dijaga. Editing dan cek
narasumber dijalankan, meski tak semua dilakukan, seperti Megawati
Soekarnoputri, Amin Rais, Gusdur (Abdurahman Wahid).
Berita-berita
SiaR tidak hanya dari Jakarta saja. Blok M mempunyai koresponden wartawan di
daerah-daerah konflik, seperti Aceh, Papua, Timor-Timur, dan daerah Sumatera
dan Jawa. Untuk keselamatan dan keamanan, berita-berita SiaR tidak memakai
byline atau anonim. Goenawan Mohamad suka menulis anekdot politik di rubrik “Goro-Goro”
tanpa byline.
Tim Blok M
menyewa sebuah tempat di Cikini, Jakarta Pusat, dijadikan markas menyebarkan
berita-berita SiaR. Di sebuah ruangan yang luasnya sekitar 50 meter ini
didesain layaknya kantor biro-agen iklan. Tim menyewa sebuah mesin fotocopy
yang cukup besar. Berita-berita SiaR diperbanyak dengan mesin fotocopy itu,
lalu disebarkan ke kalangan luas secara gratis. Berita SiaR juga disebarkan dan
dikirim melalui mesin fax. Dalam satu hari ada lebih dari empat ratus alamat
nomor fax yang dikirimi berita SiaR. Seorang aktivis luar negeri bekerja
mengirimkan berita dengan email lewat internet dan membuat sistem keamanan
(electronic security).
Berita-berita
SiaR juga dibaca oleh pengguna internet di Indonesia, benua Asia dan Eropa.
Layanan berita SiaR disalurkan oleh milis para intelektual yang mempelajari
soal Indonesia, beralamat apakabar@clark.net.
John MacDouglall dari Ohio University yang berperan sebagai moderator milis
“Apakabar”. Ia menyebarkan layanan berita SiaR dan informasi bawah tanah
lainnya di milis itu dari Amerika Serikat.
Milis “Apakabar”
John MacDougall
mendesain sistem keamanan yang sulit ditembus oleh intelijen militer. Ia
mengorganisir transaksi informasi elektronik dari hulu hingga hilir (atau dari
bawah sampai ke atas). Seorang webmaster ditempatkan di Jakarta, tugasnya
menerima kiriman berita dari reporter di lapangan. Mereka mengirimkan berita
dengan file-file yang telah terkunci. Kunci file itu dibuka oleh Webmaster
Jakarta, kemudian dikirimkan ke moderator milis di Amerika Serikat. John
MacDougall membukanya, membuat sistem pengamanan baru untuk disebarkan ke milis
apakabar. Semua file yang diposting dilindungi oleh sistem keamanan yang sama
ketat dan kuatnya.
Dalam
korespondensi email dengan John MacDaugall, ia menjelaskan cara kerja dan
prosedur berita dan informasi diposting ke milis ‘apakabar’. “Security of
specific poster identity for this group's postings was made possible in
two ways. Postings were sent encrypted using PGP to a friend of mine who
de-encrypted them and sent them to me to put on 'apakabar.' That was,
remember, a moderated list run on a leased server, so I could further ensure
privacy and protection by taking names out of the subject heads before I sent
them to the 'apakabar' site.”
Berita-berita
SiaR bebas dari sensor, wartawan dan kontributornya bisa bebas menulis tentang
kekejaman militer, keluarga cendana-keluarga Suharto, korban-korban hak asasi
manusia di Aceh, Papua, Jawa, dan daerah lain. Artikel-artikel tentang gerakan kemerdekaan
Organisasi Papua Merdeka (OPM), perilaku buruk petinggi militer, bisnis kotor
para menteri kabinet dan keluarga Suharto, korupsi di lembaga pemerintah seperti
BULOG, dan kejahatan kemanusiaan seperti penculikan dan pembunuhan dosen,
aktivis, dan wartawan tak pernah mengalami kebocoran.
Intelijen tak
mampu menembus pertahanan dan keamanan dari jaringan layanan berita bawah tanah
SiaR dan milis apakabar. Secara tegas John MacDaugall menulis email kepada
saya, “That's why the database of all postings 1990 to 2002 is so clean.”
“The early 1990s
postings, mainly news and documentation, were carried in a newsgroup on a
proprietary American Internet service provider, the Institute for Global
Communications (IGC), an English-language activist network,” John menjelaskan
lagi.
Informasi dan
berita di milis apakabar dibagi dalam beberapa bagian menurut judul dan tema
yang ditulis, dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Antara lain, inisial L-adalah
tentang opini dan analisis, berita, dokumen, wacana atau isu, dan kategori
wilayah (region) seperti Timor, Sumatra. Informasi yang dikirim juga berasal
dari berita-berita suratkabar Indonesia dan luar negeri. Nama penulis dan
suratkabar itu tetap dirahasiakan atau dibuat akronim, misalnya The Jakarta
Post itu JKTP, Sydney Morning Herald itu SMH.
Dalam artikel A Brief History of The Apakabar List, John
MacDaugall menulis selama Oktober 1990 sampai Februari 2002 ia mencatat 175.000
posting dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Menurutnya, milis apakabar tumbuh
dan berkembang luas dalam sejarah milis internet di Indonesia. Apakabar dibaca
oleh 250 ribu orang di 96 negara. Apakabar menjadi database sangat menarik dan
kaya bagi studi tentang Indonesia. Saat ini database apakabar bisa dibaca di web,
www.hamline.edu/apakabar dengan
bebas dan merdeka.
Database apakabar
menjadi saksi sejarah Indonesia tentang orang-orang bawah tanah yang melawan
rezim ototoriter yang melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap rakyatnya.
Apakabar adalah saksi para jurnalis dan aktivis intelektual Indonesia yang
berjuang melawan sebuah tirani dengan informasi.
Semoga, apakabar
memberikan inspirasi kepada dunia dan kita yang sedang berkumpul di sini untuk
tetap berjuang menyuarakan kebenaran dengan informasi dan berita. Kebebasan (di
Indonesia) telah diraih, namun ancaman menegakkan kebenaran tetap memuat resiko
besar bagi kerja profesional jurnalis. ***
[Ini naskah saya buat tahun 2009, naskah pendek yang perlu eksplorasi mendalam dan lengkap tentang sejarah media internet di zaman rezim otoriter Orde Baru.]